Feeds RSS
SEMOGA BERMANFAAT :)

Selasa, 25 Maret 2014

AXEL'S PEN




AXEL’S PEN
                  Pagi itu, seorang gadis dengan rambut terurainya di sertai gelang yang melingkar di tangannya  sedang melintas di  koridor kelas SMA SENTOSA. Laki-laki di sekitarnya sangat terpana akan kecantikan dirinya. Betapa tidak, gads itu bagai bidadari, berparas cantik, berambut indah, disertai kepintarannya yang menjadikan dia selalu menadi juara umum.
Tapi sayang...............
“kenalin, gue Axel,gadis paling cantik disekolahan, anak dari pengusaha terkenal, dan gue sangat kaya.” Ya itulah kata-kata yang sering terucap olehnya, dia sangat sombong.
               Pagi itu dia sedang berjalan di koridor kelasnya dengan tiga buah buku yang di dekapnya. Tidak lupa  satu barang kesayangannya, barang yang selalu di bawanya kemana-mana sedang di pegangnya erat. Ya, barang itu adalah PENA.
Tiba-tiba.............bruukk!!!
Axel  bertabrakan dengan  seorang laki-laki.
“kalo jalan liat-liat dong, pake tuh mata, jangan belanja aja, liat nih buku gue jadi berantakan kan gara-gara loe!” terdengar celoteh Axel yng mengheningkan suasana di sekitarnya.
“maaf....maaf... gak sengaja .” laki-laki itu berucap lembut.
“maaf,maaf, gak bisa ! loe pasti sengaja kan pengen tubrukan dengan cewek secantik gue, jangan ngarep deh , cepat beresin buku gue.”ucapnya dengan nada tinggi.
“iya..iya... gue akan beresin.”jawab laki-laki tu dengan nada lembutnya, sambil jongkok untuk membereskan buku yang berjatuhan.
“ini bukunya, sekali lagi gue minta maaf.”ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya.
Tapi setelah mengambil bukunya, Axel pun langsung pergi, tidak menghiraukan kata laki-laki itu.
“ayo Al, kita cabut. Tidak penting ngeladenin orang seperti dia.”ucapnya kepada Alma teman yang selalu membuntutinya kemana-mana.
Laki-aki itu hanya bisa diam melihat tingkah laku Axel dan pergi meninggalkan tempat itu dengan senyum manisnya.
Di perjalanan menuju kelas Axel teringt sesuatu.
“ya ampun..! pena gue, pena gue gak ada.. dimana pena gue!”ucap Axel panik.
“ya ampun Xel, koq sampai panik gitu, mungkin jatuh kali Xel, gara-gara tadi.”ucap Alma.
Tanpa basa-basi Axel langsung pergi ke tempat dimana ia bertubrukan dengan laki-laki itu. Alma pun seketika mengejarnya.
“aha!!!  ini dia,untung ketemu.”ucap Axel bahagia.
“ya ampun Xel, barang butut kaya gini aja , koq loe pertahanin, loe kan bisa beli lagi yang baru.”ucap Alma sambil memerhatikan pena yang sedang di pegang Axel.
“diam loe. Loe gak tau apa-apa.”ketus Axel. Alma pun seketika bingung dengan tingkah laku Axel yang tiba-tiba marah.
Besoknya.............
Axel pun di kelas melamun sambil melihat pena yang di pegangnya. Seketika Axel teringat sesuatu.
“Axel kemari sayang...ohek...ohek...”terdengar suara mamah Axel yang lemah di sertai batuk.
“iya mah ada apa?”
Tolong, ambilkan kotak kecil di bawah kasur mamah, ohek....ohek....”lirih bunda Axel di sertai btuk yang tiada henti.
“ini apa mah?” ucap Axel penasaran.
“ini adalah pena kesayangan mamah, ini buat kamu Axel, jaga baik-baik ya, ingat! Pna ini hanya ada dua di dunia ini, karena mamah sendiri yang membuatnya, pena ini sangat berharga.. ohek.....ohek.”
“berharga? Lalu yang satunya lagi dimana mah?”
“satu lagi ada di sahabat mamah.... mamah sendiri yang memberinya... dia adalah tante Siska..tapi... sekarang dia telah meninggal karena kecelakaan..ohek...ohek... mungkin penanya ada di suami tante Siska, namanya Pak Burhan..ohekkk.....ohek...ohek....”suara mamah Axel terhenti, seketika darah muncul dari  mulutnya, yang pada waktu itu menempel di telapak tangannya.
“mah....mah....mamah kenapa ??’
Mamahnya Axel pada waktu itu meninggal karena penyakit yang di deritanya.
Mengingat hal itu, tidak terasa air mata Axel pun tumpah.
Tiba-tiba....
“hayo! Lagi ngapain.?” Terdengar suara laki-laki mengagekan Axel, dia adalah Rio. Anak yang dikenal sangat jail.
“yee .......si sombong ini lagi nangis, tidak biasanya.”dalih Rio.
“apa-apaan sih loe, cepat sana pergi, ganggu aja!” ucap Axek kesal.
“yee... cantik meni segitunya, mending nangisnya di pangkuan aa aja “
Axelpun seketika marah.
“hay gays!!!! Mau tau nggak , si jail ini godain gue. Ya gue gak ladenin lah, secara gitu gue itu cantik , sedangkan dia ga da papanya di banding gue.” Teriak Axel sambil berddiri di atas kursi.
“ha....ha....ha...” anak-anak yang mendengar celoteh Axelpun ketawa.
Riopun seketika peergi meninggalkan kelas..
“dasar Axel sombong , loe telah bikin gue malu. Liat aja nanti.” Niat jahil Rio pun muncul.
Karena pelajaran OR , Axel sekarang lagi berada dilapangan.tapi, terlihat seorang laki-laki mengendap-endap ke kelas Axel dan mengambil suatu barang dari tas Axel. Laki-laki itu adalah Rio.
Setelah OR selesai, Axelpun masuk ke dalam kelas, tapi apa yang terjadi, pena ungunya hilag.
“pena gue, pena ungu gue mana..??Alma, loe liat ga ?” ucap Axel panik sambil mengeluarkan semua isi tasnya.
“ya nggak lah, gue kan dari tadi olahraga bareng loe , loe lupa kali nyimpennya dimana.”
“nggak, gue yakin, tadi gue simpen di tas,koq sekarang gak ada sih.” Axelpun duduk di kursi tidak terasa air matapun luluh.
“tenang...tenang... nant juga ketemu..” ucap Alma dengan maksud menenangkan hati Axel.
Axelpun terdiam, dan dilihatnya di luar pintu. Tiba-tiba...terlihat seorang laki-laki berjalan dengan pena ungu yang menempel  disakunya.
“pena gue!”Axelpun lari mengejar laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu pergi ke kantin. Setelah duduk dan memesan makanan, tiba-tiba...........
Prakkkkk.......
Suara pukulan telapak tangan ke meja terdengar begitu keras dan mengagetkan seluruh orang yang sedang ada di kantin.
“eh... loe kan yang nabrak gue kemaren... berani-beraninya ya loe nyuri pena kesayangaan gue..”
“apa loe bilang... nyuri??? Ya nggak lah .. ini tuh pena gue.”
“ahhh... bullshitt!!!!gak mungkin pena gue ada di loe, pena ini hanya adda dua di dunia, dn yang satu yg pasti bukan di loe. Sini balikin!!”Tangan Axelpun lansung mengambil pena yang berada di saku laki-laki itu. Diapun kembali ke  kelas.
“eh Xel, kemana aja loe, nie pena loe, ternyata Rio yang ngambil, dia tuh iseng pengen ngerjain loe.” Ucap Alma sambil menyodorkan pena milik Axel.
“apa,,,? Lalu ini?”ucap Axel sambil menunjukan pena yang di pegangnya.
“loh....?? koq bsa??ini pena loe dari Rio, lalu itu, koq ada dua ?”ucap Alma bingung.
“ya ampun....jadi, pena ini ? ah gak mungkin, pena yg satu lagi ada di suami sahabat mamah Pak Burhan ..apa jangan-jangan....?” Axelpun langsung kembal ke kantin,tapi laki-laki yang ingin di temui sudah tidak ada.
“ya ampun, kenapa gue jadi gini, gue telah salah menilai orang. Gue nyesel” lirihnya dalam hti.
Sepulang sekolah tidak sengaja Axel melihat laki-laki yang di carinya. Tapi...
“tunggu...tunggu...mending gue selidikin aja siapa dia, gue masih penasaran kenapa pena buatan mamah gue ada di tangan dia, gue harus ikutin dia.”
Tidak tersadar oleh laki-laki itu. Axel telah membuntutinya. Setiba di rumah laki-laki itu, Axel melihat dari jauh mobil ayahnya terparkir di depan rumah laki-laki itu.Axel sempat bingung.
“loh..koq ayah ada di situn ngapain?”lirih Axel dalam hati melihat ayahnya keluar dari rumah itu. Tanpa basa-basi lagi.
“ayaaaaaah!!!” panggil Axel dari jauh.Axel pun menghampiri ayahnya.
“Ayahn ngapain disini?”
“loh, Axel koq tanya ayah , harusnya ayah dong yang nanya, ngapain Axel disini. Mmmp... ayah tau, pasti mau ketemu Bara, pacar kamu ya ??” selidik ayah.
“Bara? Siapa Bara?” Axel bingung.
“Oh jadi bukan mau ketemu Bara. Itu loh anak Pak Burhan, yang barusan baru datang skolah.”
“oh, jadi namanya Bara, ternyata aku salah nilai dia , ternyata Pak Burhn suda ngasih pena itu ke Bara, anaknya.”lirih Axel dalam hati.
“terus ayah ngapain disini??”
“biasa, ayah ketemu bos ayah ngomongon bisnis sayang.”
“jadi, bapa Burhan itu bos ayah ?”
Iya, emangnya kenapa sayang?”
“mmmpp,gak papa koq.. eh yah , boleh pulang bareng ayah ga?”
“ya boleh lah sayang.. apa sih yang engga buat anak kesayangan ayah.”
Ya, semenjak ditinggal ibunya, Axel sangat dimanja oleh ayahnya,apapun yang dia mau slau di tirutin.
Didalam mobil Axelpun sadar.
 “laki-laki itu,kenapa ia amat baik, dia diam ke ketika gue marahin, dia juga gak marah ketika gue tuduh yang enggak-enggak. Kenapa gue gak bisa sebaik dia, gue terlalu sombong. Kekayaan gue gak sebanding dibanding kekayaan dia. Tapi, kenapa gue sesombong ini. Ya Allah... maafkan aku..!” lirih Axel dalam hati, tidak terasa air matanya pun keluar.
“Bara....!!!” panggil Axel kepada Bara yang sedang duduk di bangku taman sekolah.
“iya, ada apa?”
“ini pena loe kan?”
“bukannya kata loe, ini pena loe”
“maafin gue Bar, gue dah nuduh loe yang nggak-nggak, gue sadar gue salah.”ucap Axel menyesal.
“bagus lah, kalo loe sudah sadar.” Ucapnya sambil mengambil pena dan berdiri meninggalkan Axel.
Di tempat itu Axel menangis.
“maafkan gue Xel, gue sengaja ninggalin loe, gue mau loe bener-bener sadar apa yang di lakuin loe itu salah, jangan sampai kesombonganmu itu membuat hati loe buta.”
Bara memang dari dulu sering memehatikan Axel, dia tau kalo Axel yang mempunyai pasangan penanya, makanya dia tahu bahwa Axel dulu salah sangka terhadapnya.
Terlihat Bara sdang duduk di samping deretan buku dilemari.
“Bar, please, maafin gue, gue ngaku salah” ucap Axel
“tenang aja gue sudah maafin loe koq, tapi  loe maafin gue gak waktu gue nubruk loe ?”
“tenang Bar, gue udah maafin loe jga koq,eh ngomong-ngomong koq loe tau nama gue ?”
“ya tau lah, loe kan terkenal di skolh ini. Secara kamu tuh orang paling cantik dan paling kaya , iya kan ?”
“mmmmp... loe ngeledek gue ya.. gue kan udah tobat sekarang gue gak bkal sombong lagi,.”
“iya..iya...gue percaya”
“eh, pena loe mana?”
“ini!” ucap Bara sambil mengeluarkan pena dari sakunya.
“tidak nyangka banget, ternyata orang yang punya pasangan pena gue adalah loe, anak dari bos bokap gue.”
“santai aja kali Xel, mungkin ini takdir”
“gue banyak belajar dari loe Bar, ternyata sombong menyakitkan, dapat membutakan segalanya,”
Ya , sombong memang dapat membutakan segalanya. Kita tidak bisa melihat kepribadian diri dari kilauan cermin kehidupan............


                                                                                  SELESAI..

                                                                                                                                    
KARYA : IRMA SUHAENI


0 komentar:

Posting Komentar